Masa Eksodus (tahun 2000) dan Hidup di Diaspora

R3_keluarDalam perkembangan selanjutnya, Rumahtiga sebagai satuan sosial negeri dan jemaat menghadapi ujian terberat yakni konflik Maluku 1999. Tepatnya tanggal 04 Juli 2000, Jemaat Rumahtiga dibumihanguskan dan semua warga jemaat terpaksa mengungsi ke berbagai tempat di Kota dan Pulau Ambon, bahkan ada yang keluar ke berbagai provinsi lainnya. Warga Jemaat Rumahtiga menyebar di beberapa lokasi pengungsian yakni di Passo, Lata, Lateri, Galala, Kilang, Toisapu, Amahusu, Latuhalat, Seri, Airlouw atau seluruh wilayah di pulau. Ambon, dan ada yang ke luar Maluku (Papua, Jawa).

Selama di pengungsian jemaat dikoordinasikan kembali. Semua warga jemaat tetap berhimpun bersama sebagai jemaat Rumahtiga. Para Pendeta dan Majelis Jemaat kala itu mulai mengatur berbagai usaha untuk mengkoordinasi semua warga jemaat. Usaha itu berhasil dengan pelaksanaan ibadah di Gedung Gereja Jemaat Lata untuk yang mendiami Galala-Passo, gedung Gereja Rehoboth untuk yang mendiami Kecamatan Nusaniwe, dan gedung Gereja Bethania untuk yang ada di pusat kota. Gereja Bethania, Jemaat Bethania Klasis GPM Kota Ambon merupakan titik pertumbuhan pertama di diaspora. Hal mana sekaligus menampakkan keterjalinan ‘keluarga Allah’ dalam jemaat-jemaat GPM. Solidaritas bergereja yang menunjukkan bahwa jemaat-jemaat GPM selalu dapat berjalan bersama untuk saling menopang satu sama lainnya.

Dalam kondisi di diaspora (tahun 2000) dibangunlah Gedung Gereja DUSUN KASIH, sebagai gereja alternatif Jemaat Rumahtiga yang ada di pengungsian sepanjang Galala sampai Passo. Gedung gereja ini pun dibangun di atas tanah keluarga besar Maspaitella-Hendriks. Sungguh ini pun suatu bukti betapa warga jemaat memberi dengan tulus apa yang menjadi bagian hidup mereka bagi gereja dan misi Tuhan di tengah dunia ini.

Aktifitas ibadah jemaat yang ada di Kota Ambon sampai Nusaniwe berpusat di Gedung Gereja Bethania dan Rehoboth. Pada masa cooling down, ibadah di kedua gedung gereja itu dialihkan ke Gedung Gereja Bethel, untuk mempermudah transportasi warga jemaat dari dan keluar Kota Ambon. Hal ini masih berlangsung hingga kini. Dan Jemaat Bethel merupakan bagian lain dari sejarah pertumbuhan jemaat Rumahtiga di diaspora sampai saat ini. Semua itu melukiskan bahwa misi jemaat Rumahtiga dalam masa konflik dan pasta-konflik tidak lepas dari dukungan jemaat-jemaat lainnya.

Di pengungsian, rasa kebersamaan sebagai warga Rumahtiga tumbuh begitu kuat. Bukan hanya karena rasa senasib akibat konflik, melainkan mereka meyakini situasi hidup bersama seperti dahulu adalah hal yang perlu dipertahankan. Keyakinan itu pula yang mendorong warga jemaat meminta para pendeta dan Majelis Jemaat agar Jemaat Rumahtiga tidak boleh bubar atau dianggap hilang, melainkan harus diupayakan untuk terns ada dan melaksanakan tugas pelayanan seperti sebelumnya dan harus kembali ke Rumahtiga.

Solidaritas di pengungsian terbangun melalui simbol-simbol teologis. Orang Rumahtiga merasa mereka adalah penduduk asli yang `eksodus’ atau keluar dari negerinya dan kini ‘berdiaspora’ di berbagai tempat. Konsep eksodus bagi mereka mengandung pengertian bahwa ada hal-hal vang harus segera dibenahi terutama menyangkut gaga hidup dan perilaku masyarakat atau warga jemaat. Kerusuhan yang berdampak pada hilangnya semua harta benda bahkan negeri yang dibumi-hanguskan, Berta gedung gereja yang turut dimusnahkan tidak dilihat sebagai puncak kemarahan Tuhan melainkan kesempatan untuk menata kembali kehidupan baru sebelum kembali ke Rumahtiga.

Demikian pun konsep diaspora tidak dilihat sebagai kondisi perpecahan, melainkan perserakan untuk semakin memantapkan soliditas dan semangat bersekutu atau hidup bersama sebagai jemaat dan masyarakat yang baru. Sebab itu kesulitan-kesulitan selama di pengungsian dimaknai sebagai proses-proses normal dalam pendidikan iman. Orang Rumahtiga berusaha meresapi maksud Tuhan dengan mereka melalui peristiwa kelabu itu. Justru dalam diaspora itulah keinginan untuk terus mengikat diri sebagai satu jemaat dan harapan untuk kembali (eskhatologi kontekstual) semakin kuat.

Kenyataan itu kemudian dikoordinasi melalui gereja. Proses pelembagaan Sektor dan Unit Pelayanan mulai ditata di diaspora. Terbentuk Sektor-Sektor sebagai berikut:

diaspora

Dalam diaspora pelayanan tetap dilangsungkan. Semua pendeta dan Majelis Jemaat bertugas melayani jemaat di Semua wilayah Sektor tersebut. Pada periode pemilihan Majelis Jemaat 2000 – 2005, seluruh organisasi pelayanan dan badan pembantu pelayanan tetap diangkat dan berfungsi sebagaimana lazimnya, walau di diaspora. Semangat bersekutu sangat tinggi, begitu juga Semangat melayani di kalangan pelayan khusus. Kunjungan-kunjungan keluarga sebagai salah satu tugas pokok gereja berjalan secara efektif walau dalam keadaan diaspora.

Persebaran terbesar berada di Passo dan Lata, sebagai lokasi yang dinilai aman kala itu. Mereka yang mengungsi ke Kota sampai ke semenanjung Nusaniwe rata-rata adalah penduduk setempat yang semula tinggal dan beraktifitas di Rumahtiga. Mereka kembali ke negeri mereka dan membangun rumah permanen di sang.

Rencana kembali ke Rumahtiga sudah dimulai sejak tahun 2004. Barak-barak pengungsi telah dibangun di beberapa tempat, dan aktifitas membangun kembali rumah warga sudah dikerjakan. Namun 25 April 2004, merupakan pil pahit yang mesti ditelan kembali. Dalam kondisi baru mulai membangun dan menikmati kedamaian itu, kerusuhan bemuansa politik kembali terjadi. Kali ini orang Rumahtiga diserang karena stigma Republik Maluku Selatan (RMS). Mereka kembali lagi ke diaspora. Ironinya, rumah-rumah yang baru saja dibangun kembali dibakar, dan seluruh material bahan bangunan rumah yang ada di lokasi pembangunan rumahnya dijarah dan dimusnahkan kembali.

Derita bertubi-tubi ini semakin mengentalkan rasa kekeluargaan di kalangan orang-orang Rumahtiga. Mereka merasa mengalami nasib yang lama akibat konflik sosial tetapi juga stigmatisasi politik. Terbangun di antara mereka solidaritas korban (victim solidarity) dan perasaan sebagai korban itu yang mendorong mereka untuk mempertebal kebersamaan, menjauhkan perbedaan sosial oleh alasan dan faktor apa pun.

Pada 6 September 2005, Jemaat dan seluruh masyarakat Rumahtiga kembali lagi ke negerinya atas fasilitasi pemerintah daerah. Gedung Gereja KEHIDUPAN diresmikan pada hari itu sebagai momentum kembalinya Jemaat Rumahtiga ke jemaat asal. Rumah­rumah kembali dibangun. Beragam sarana social pun turut dibangun.

Nama gereja KEHIDUPAN merupakan momentum baru penataan kembali kehidupan dalam konteks yang utuh di Rumahtiga. Nama ini diberikan oleh Pdt. J. Satumalay [pernah menjadi Ketua Majelis Jemaat Rumahtiga] sebagai refleksi bahwa TUHAN yang menuntun jemaat ini kembali ke Rumahtiga. Itu pertanda ada. kehidupan baru yang akan terbit dari tengah jemaat ini, dan tidak akan ada lagi kecelakaan, melainkan rancangan damai sejahtera. Pasca kembali ke Rumahtiga, pelayanan ditata kembali seperti sediakala. Dibentuklah Sektor-sektor pelayanan di Rumahtiga, termasuk yang ada di diaspora

ditulis oleh : Pdt. E. T. Maspaitella

Be Sociable, Share!