Masa Awal Jemaat GPM Rumahtiga

Masyarakat Rumahtiga adalah komunitas adat di Pulau Ambon yang secara kultural termasuk dalam Uli Lisawane bersama negeri adat seperti Wakal, Eli, Pelisa, Senalo, Hukunalo (Rumahtiga) dan dipimpin oleh Wakal –yang sekaligus adalah gandong dari Rumahtiga. Sebagai suatu negeri adat, masyarakat Rumahtiga terhimpun dalam tiga soa besar yakni: Soa Pari –yang terdiri dari marga da Costa (sebagai kepala soa) bersama dengan marga Limba, Huwae, Talahatu dan Hatumeseng (mata rumah linyap); Soa Hukunalo –yang terdiri dari marga Tita (sebagai kepala soa) bersama marga Saimima; dan Soa Haubaga –yang terdiri dari marga Hatulesila (sebagai kepala soa), bersama dengan marga Parera, Pettipeilohy dan Narua. Kelompok marga da Costa, Tita dan Hatulesila diyakini sebagai kelompok masyarakat asli Rumahtiga yang memiliki sejarah keleluhurannya masing-masing dan terikat satu sama lain dalam hubungan persaudaraan.

Para penduduk asli ini menempati wilayah-wilayah adatis dalam teritori negeri Rumahtiga antara lain di Weig-weig yang sekarang lebih dikenal dengan nama daerah Pohon Mangga, Kusu-kusu dan Rumahtiga Pante. Seining dengan perkembangan penduduk asli ini, sebagian dari mereka mulai membuka daerah sekitar Wailela, Kota Mahu dan Srisa Ueng (Blimbing Ueng) untuk sebagai tempat permukiman baru. Negeri Rumahtiga pun berkembang dan kawasan permukiman baru itu kini lebih dikenal dengan nama Wailela.

Mengenai sejarah agama, para penduduk asli ini semula menjadi penganut agama Katolik. Ini dimulai dari pergaulan mereka (orang Hukunalo) dengan orang Portugis tatkala Portugis diusir dari Hitu (salah satu negeri gandong Rumahtiga bersama Wakal). Orang Portugis diantar oleh orang Hukunalo ke Leitimor melalui Hative Besar. Mereka kemudian menyeberang ke Leitimor dan membangun Benteng di Kota Laha (sekarang New Victoria). Jejak Katolisisme agak sulit ditemui di Rumahtiga. Kecuali itu, fakta adanya sebagian jemaat Parokhi Katolik di Rumahtiga dewasa ini adalah perkembangan baru seining dengan pembauran sosial akibat berdirinya kampus UNPATTI. Sementara jejak Protestantisme pun sedikit rumit dijejaki mengingat keterbatasan data dan cerita-cerita lokal di Rumahtiga. Jejak ke arah itu dapat ditelusuri dari adanya kesaksian bahwa orang Kristen [Protestan] pertama di Rumahtiga bernama Latu Oetoe.

Beberapa jejak Protestan yang bisa ditelusuri adalah melalui B.N.I. Roskott tenaga guru yang diutus NZG dan mendirikan Sekolah Guru Pribumi di Batu Merah (1835). Dalam ceritanya Roskott kemudian pindah dan menetap di Rumahtiga. Kecuali Roskott, J. Luwjke adalah salah seorang zendeling NZG yang diakhir masa tugasnya turut menetap bersama keluarganya di Rumahtiga. Salah seorang anaknya menikah dengan Roskott ketika istri pertamanya meninggal dunia. Namun jauh sebelum kedatangan Roskott, atau dalam masa pelayanan Joseph Kam, yakni pada 22 April 1821 dilakukan akta peletakan batu pertama Gereja di Rumahtiga. Pada waktu itu yang bertugas di Rumahtiga ialah Pdt. Mustamu dan Weig Mester Andreas Saimima.

Sampai dengan kemandirian GPM, jemaat Rumahtiga mulai menata diri. Pada tahun 1930, usaha menuju kemandirian diawali dengan kebijakan Proto Synode untuk membuka kebun-kebun. jemaat. Jemaat Rumahtiga meresponi hal ini dengan jalan membuka kebun jemaat. Pada saat itu yang bertugas di Rumahtiga ialah Pdt. Pattiasina, yang lebih dikenal dengan sapaan ‘Pendeta jare bakambar’. Atas kebijakan Saniri Negeri diberi lahan kebun jemaat kepada pihak gereja.

Di zaman Jepang, Jemaat Rumahtiga mengalami masa-masa sulit dalam hal pelayanan dan pertumbuhan jemaat. Para pendeta yang melayani di zaman ini antara lain Pdt. Persulessy (1940-an), Pendeta Sitaniapessy (1942) yang kemudian dibunuh oleh Jepang. Pdt. Fukuda adalah Pendeta Jepang yang bertugas melayani tentara Jepang dan turut melayani di Rumahtiga beberapa bulan pada tahun 1942. Setelah itu Rumahtiga berturut-turut dilayani oleh Pdt. Werinussa (1942), Pdt. Sapulete (1944), Pdt. Musa dan kemudian Pdt. Werinussa (1944) yang ditugaskan kembali ke Rumahtiga. Pasca Jepang, Jemaat Rumahtiga mulai menata diri dan melembaga terus sebagai jemaat GPM yang mandiri hingga saat ini.

Sejak zaman Belanda, Rumahtiga sudah menjadi suatu kawasan sosial yang terbuka. Hal ini ditandai dengan masuknya komunitas dari Lease dan Seram yang kemudian menetap sebagai bagian dari penduduk setempat. Orang-orang Rumahtiga di zaman itu sudah -menjadi penganut Protestan. Mereka kemudian membaur dengan komunitas Buton yang datang dan menetap di dusun-dusun milik orang Rumahtiga. Lambat laun mereka menjadi bagian dari penduduk setempat.

Sumber : Sekilas Sejarah Jemaat Rumahtiga (Renstra Jemaat 2012 – 2015)

Be Sociable, Share!