Yakin akan Kepemimpinan Tuhan (Keluaran 3:11-14)

Keluarga yang beriman selalu yakin akan kepemimpinan Tuhan. Jemaat yang beriman selalu percaya bahwa keutuhan dalam hidupnya pun terjadi karena kepemimpinan Tuhan. Di mana saja, ketika ada orang beriman, maka selalu ada hidup yang utuh, harmonis, rukun, damai, dan saling berbagi satu sama lain. Sebab kualitas iman sebuah keluarga dan jemaat tampak pada penyerahan diri total kepada Tuhan dan kesediaan melakukan perbuatan baik yang dikehendaki oleh-Nya.

Bersama-sama sebagai warga GPM kita sudah mensyukuri berkat Tuhan bagi gereja ini dalam usia pelayanan ke-80, pada 6 September 2015 yang lalu. Secara khusus di Rumahtiga, nuansa syukur itu kita lakukan dengan bersama-sama memuji Tuhan dalam kidung rohani jemaat melalui pesta Paduan Suara Gerejawi Jemaat Tahun 2015.

Akta itu membuktikan bahwa kita yakin akan kepemimpinan Tuhan bagi gereja ini, yang tampak dalam pemeliharaannya. Ada beberapa hal penting dari sejarah bergereja, dalam membangun iman gereja yang utuh di Rumahtiga.

Pertama, bahwa injil yang kemudian ditanam di seluruh Maluku, Papua, dan pulau-pulau lain di Nusantara adalah injil yang disemai karena peran orang Rumahtiga mengantar para penginjil Katolik dari Hitu ke Hative Besar. Mereka adalah orang tua atau leluhur negeri ini. Artinya, Tuhan menggerakkan hati mereka untuk menjadi penunjuk jalan bagi berlangsungnya pesemaian benih injil.

Kedua, dalam waktu menjadi gereja, kita dihadapkan dengan realitas konflik yang membuat kita mengungsi. Namun di pengungsian, kita berusaha memelihara keutuhan jemaat. Diaspora bukanlah keterserakan, tetapi spirit untuk mengutuhkan. Di mana saja kita ada, keinginan untuk terus menjadi Jemaat Rumahtiga dibina, hingga Dusun Kasih menjadi simbol dari keutuhan jemaat yang kita pelihara.

Ketiga, dalam keyakinan akan kasih Tuhan itu, di 6 September 2005, kita kembali dan pertama-tama membangun gereja ‘Kehidupan’, sebagai tanda bahwa kita dibawa pulang oleh Tuhan ke Rumahtiga semata-mata karena di sini Tuhan pernah membangun JemaatNya yang kudus, dan di sini pula segala ibadah harus dilaksanakan.

Karena itu, puji-pujian kepada Tuhan tidak boleh luntur karena tantangan apa pun, sebab hidup sebagai jemaat Rumahtiga berarti hidup yang percaya bahwa Tuhan pernah menjadikan kita penunjuk jalan Injil tagal itu tanganNya tidak terlepas, melainkan Ia meluputkan kita dari tantangan yang sangat hebat. Artinya, tantangan sekecil apa pun tidak boleh mematikan semangat kita untuk memuji Nama Tuhan.

Jemaat ini harus dipenuhi dengan puji-pujian yang membahana. Segala pujian bagi Tuhan itu layak dinyanyikan semua orang yang telah diselamatkan. Dan jemaat ini adalah akta dari tindakan penyelematan Tuhan karena Ia ingat akan peran leluhur kita yang sudah menjadi penunjuk jalan misi Injil di Maluku.

Seperti itulah Musa pun bertugas untuk membawa umat Tuhan ke negeri yang ditunjukkan olehNya. Dengan demikian, iman jemaat harus bertumbuh dalam kesadaran bahwa Tuhanlah yang telah membawa kita sampai sejauh ini. Ia menghendaki kita hidup dalam keluarga yang utuh. Iamenghendaki kita membina jemaat yang rukun dan utuh. Ia mau kita membangun hidup bergereja yang utuh karena sejak awalnya Ia sudah mengikat janji dengan leluhur kita untuk menjadikan mereka penunjuk jalan misi Injil, dan karena itu menjadikan kita umat yang berkualitas.

Mengupayakan hidup berjemaat seperti itu yang membuat Rumahtiga akan menjadi jemaat yang selalu tergerak memuji Tuhan dalam segala pengalaman hidup. Kita sudah berperan dalam membawa ‘benih kehidupan’. Kehidupan itu tidak selesai hanya karena keterserakan. Sebaliknya dari dalam keterserakan Tuhan menghimpun kita, dan ketika kita telah bersekutu, Ia membawa kita kembali ke negeri dan jemaat di mana namaNya telah ditegakan atasnya.

Karena itu inilah saatnya untuk terus memuji kebesaran kuasaNya, sebab sampai di sini Ia sudah menolong kita, dan akan terus menyatakan kasihNya atas kita sebagai ‘penunjuk jalan misi Injil’. Amin!

Be Sociable, Share!