Syarat Pemimpin Yang Bijaksana (Keluaran 18:19-23)

Suatu bangsa atau organisasi akan bertambah kompleks dari waktu ke waktu. Dalam situasi itu, perlu pembagian tugas yang baik, sebab kepemimpinan tidak bisa dijalankan satu orang saja. Tim adalah model kepemimpinan yang tepat, karena dengan adanya tim maka tugas yang banyak dapat dibagi dan terlaksana dengan baik, tanpa ada yang terabaikan.

Yitro, mertua Musa ~ketika melihat Musa dalam kegalauan yang besar, mengusulkan kepada Musa suatu pola pembagian tugas yang dengannya ia dapat memimpin bangsa Israel dengan berhasil. Pola itu adalah diperlukan para pemimpin 10 orang, 50 orang, 100 orang dan 1000 orang. Artinya umat yang bertambah banyak itu harus dikelompokkan ke dalam jumlah-jumlah tadi untuk memudahkan koordinasi tetapi juga pelayanan kepada mereka. Dengan demikian tugas Musa menjadi terfokus, yakni menjadi hakim yang adil atas mereka dan membawa segala doa umat kepada Tuhan (fungsi imam).

Untuk mendapati para pemimpin di tiap kelompok umat itu, ada tiga syarat yang diajukan Yitro menjadi pertimbangan Musa. Syarat kesatu, carilah orang yang cakap dan takut Tuhan. Sebab seorang pemimpin harus memimpin bukan karena kekuatannya, tetapi karena firman dan kehendak Tuhan. Ia tidak boleh otoriter dan memerintah umat melakukan segala sesuatu menurut kehendak hatinya, melainkan menurut kehendak Tuhan.

Kedua, carilah orang yang dapat dipercaya. Sebab sebagai wakil dari kelompok 10, 50, 100 dan 1000, ia harus bisa membawa aspirasi umat dan mewakili mereka, bukan mewakili dirinya sendiri atau mewakili group, keluarga atau kroni-kroninya. Ia harus mewakili umat secara langsung dan membawa semua pergumulan umat agar umat dapat dilayani secara baik.

Ketiga, carilah orang yang benci akan suap, sebab jika pemimpin suka menerima suap, keadilan akan jauh, orang miskin akan semakin menderita, orang-orang yang dirampas haknya terus diperbudak, dan mereka yang kaya bertindak semena-mena terhadap saudaranya sendiri. Pemimpin yang suka akan suap tidak takut Tuhan.

Tiga syarat itu menjadi syarat pokok yang penting diperhatikan, termasuk dalam hidup kita saat ini. Dalam bangsa ini, kita perlu para pemimpin dan wakil rakyat yang memenuhi standard syarat-syarat tersebut. Artinya, mereka memang dipilih dan ditetapkan agar semua rakyat dapat menikmati hak hidup secara wajar. Jadi jabatan tidak membuat mereka larut dalam fantasi status sosial yang tinggi, tetapi menjadi semangat dan sumber motivasi untuk melayani seluruh rakyat. Karena tidak ada pemimpin tanpa rakyat, sebaliknya rakyat adalah pemegang otoritas yang mempercayakan haknya kepada para pemimpin.

Keberhasilan kepemimpinan dalam gereja dan keluarga juga ditentukan oleh orang-orang dengan kecakapan atau syarat tadi. Para pelayan dalam jemaat atau gereja haruslah mereka yang cakap dan takut Tuhan, dapat dipercaya dan tidak suka akan suap. Sebab kepemimpinan gereja adalah kepemimpinan pelayan yang harus dijaga kekudusannya. Pada dimensi kekudusan itu, pekerjaan pelayanan adalah suatu panggilan yang darinya Tuhan menghendaki kita menjadi gereja yang utuh dan memelihara persekutuan jemaat yang kudus.

Demikian pun dalam rumah tangga. Sehingga laki-laki gereja yang adalah pemimpin dalam rumah tangga dituntut untuk selalu memperhatikan firman dan kehendak Tuhan, serta melayani anggota rumah tangganya secara bertanggungjawab. Memperhatikan hak istri dan anak-anak lalu membawa syafaat keluarga kepada Tuhan. Ia harus cakap membagi tugas dalam rumah kepada semua anggota keluarga, dan menjadikan dirinya suatu teladan dalam berbuat baik.

Hal itu menarik, oleh karena laki-laki gereja dalam setiap keluarga adalah pemimpin yang terpilih dan dikuduskan. Proses yang darinya ia terpilih dan dikuduskan terjadi melalui pernikahan. Artinya Tuhan sudah memberi kepadanya tugas untuk mewakili jemaat kecil yakni rumah tangganya secara langsung di hadapan Tuhan. Maka wajib itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan bertanggungjawab.

Relasi dengan orang tua, dalam hal ini dengan mertua, seperti gambaran teks Alkitab ini, menjadi sisi penting berikutnya, untuk mengembangkan cara hidup berkeluarga yang saling menasehati satu sama lain. Ada perhatian dari orang tua kepada rumah tangga anak-anaknya, namun bukan dalam hal mencampuri segala urusan rumah tangga anak, melainkan membimbing untuk lebih berhasil.

Kiranya Tuhan memberkati rumah tangga kita atas fungsi laki-laki gereja di dalamnya. Amin!

(etm)

Be Sociable, Share!