11870782_1045940438773776_1179777292169284737_n

“MERDEKA” TANPA HURUF “D” (Galatia 5: 1-15)

oleh

Pdt. Ny. Dessy Aipassa – Maspaitella, S.Th

Merdeka adalah suatu kondisi sempurna; bebas dari kungkungan, lepas dari situasi yang menekan, dan bisa mengekspresikan diri tanpa dibatasi haknya. Karena itu, merdeka adalah situasi yang harus dirasakan oleh semua orang tanpa kecuali (tidak ada prinsip pandang buluatau diskriminasi). Jika merdeka membuat orang didiskriminasi, maka merdeka itu hanya untuk segelintir orang. Padahal merdeka diperoleh melalui perjuangan bersama. Namun jika kemudian merdeka hanya untuk segelintir orang atau kelompok tertentu, maka MERDEKA telah kehilangan huruf D-nya. Pertanyaannya ialah; apakah merdeka itu hasil perjuangan mereka sendiri? Ataukah kita yang berjuang untuk mereka?

suku

Bahasa merdeka adalah bahasa yang menjangkau dan merangkul semua orang. Bahasa yang adil, anti kemapanan dan anti diskriminasi. Merdeka adalah KITA; maka merdeka juga meminta dari kita kewajiban merdeka, yakni untuk menjaga harmoni dan kestabilan hidup supaya orang tidak menggunakan kesempatan merdeka untuk kesewenang – wenangan. Kewajiban merdeka adalah hidup tertib dan terus merangkul sesama orang merdeka lainnya.

Merdeka menjadi penting sebab merdeka itu adalah kasih karunia. Sebagai warga bangsa, penting kita memahami bahwa, seseorang terlepas dari belenggu kehidupan bukan perkara yang otomatis. Selain memerlukan usaha dan perjuangan, tetapi paling penting perlu campur tangan Tuhan, dalam apayang kita pahami sebagai anugerah atau kasih karunia. Di situlah semangat merdeka bangsa yang beriman. Pengakuan Indonesia akan kemerdekaan sebagai berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, merepresentasikan pengakuan iman bangsa ini. Bahwa dengan perjuangan yang gigih baik secara diplomasi maupun perang, Tuhan memberi kepada Indonesia kemerdekaan.

Apa janji Tuhan tentang kemerdekaan Indonesia? Termaktub dalam UUD 1945, tujuan Nasional yakni: “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial’. Indonesia yang mampu mewujudkan itu adalah Indonesia merdeka yang kemerdekaannya membuat bangsa dan negara ini menjadi bermakna bagi semua warga dunia. Sebaliknya, Indonesia yang tidak dapat mewujudkan tujuan itu, merupakan Indonesia yang salah mempergunakan kemerdekaannya sendiri. Merdeka bukan harus menjadi ajang perebutan kekuasaan, saling menghujat, saling menekan, dan saling melempar kesalahan satu regim ke regim berikutnya. Merdeka harus disertai dengan pengampunan (forgiveness). Sebab tanpa itu, merdeka akan menciptakan penjajahan baru.

Galatia 5 : 1 – 15 mengandung beberapa aspek penting untuk memahami arti merdeka dalam situasi transisi kemanusiaan dunia yang sesungguhnya memprihatinkan.

Point pertama; bahwa merdeka berarti lepas dari kuk perhambaan / penjajahan (Ayat 1). Bagi Paulus, orang merdeka tidak lagi berjalan tertatih karena ada beban melainkan melangkah tegak tanpa beban yang menekannya. Dalam hal ini, merdeka adalah soal posisi diri (standing). Penjajahan adalah beban dan rakyat tidak bisa melepaskan diri darinya. Untuk itu, diperlukan intervensi suatu kekuatan yang jauh lebih besar dalam proses pembebasan. Dalam teks Galatia, Paulus menggambarkan penjajahan adalah dosa, dan pembebasan dilakukan oleh Yesus. Menariknya Yesus yang digambarkan Paulus adalah Yesus yang memikul Salib menggantikan umat manusia. Dengan demikian, intervensi Tuhan terjadi dengan jalan ‘menjadikan diriNya hamba bagi pembebasan atau kemerdekaan umat manusia’. Sebab merdeka dalam arti posisi diri bukan bermakna manusia yang menunjukan kehebatannya, melainkan Tuhan yang mengokohkannya. Ada dimensi peran Tuhan di dalam proses merdeka.

Point kedua; merdeka berarti mengikat janji hidup baru dengan Tuhan, atau kuasa yang membebaskan (ayat 2 – 4). Manusia merdeka tidak mau lagi terikat dengan kuasa lama yang menjajah seperti dosa, setan, kemalasan, cemburu, iri hati, kesombongan diri. Paulus mengumpamakan itu sebagai keterikatan kepada Taurat dengan prinsip bahwa Tauratlah yang menyelamatkan. Maka Paulus mau mengantar umat memahami bahwa merdeka itu ialah mengikatkan diri pada kasih karunia Yesus yang telah disalibkan, dan bukan hidup di bawah perhambaan hukumTaurat, melainkan hidup oleh kasih karunia Tuhan. Oleh kasih karunia itu pula kita akan menaati segala kehendak dan firmanNya.

Be Sociable, Share!