MENCUTIKAN ROH KUDUS

Oleh

M.A.H. TAHAPARY, SH, MH

PENGANTAR

Semoga saya tidak salah dengan ungkapan ‘mencutikan Roh Kudus’. Itulah sebabnya, saya mau memberi alasan mengapa ungkapan itu tercetus, dan sempat menjadi bahan diskusi di Walang PIKOM Jemaat GPM Rumahtiga (Rumahtiga Bible Club).

Kata cuti sendiri berarti ‘beristirahat dari pekerjaan rutin/utama atau tidak bekerja untuk sementara waktu’. Cuti adalah salah satu kesempatan yang (dapat) diambil atau diperoleh seorang pekerja karena alasan tertentu atau atas permintaannya sendiri. Jadi ‘mencutikan Roh Kudus’ berarti membuat Roh Kudus berhenti bekerja (untuk sementara waktu) dari pekerjaan pokok Roh Kudus itu sendiri, atau tidak mengandalkan Roh Kudus.

Ada beberapa alasan dari pernyataan itu. Pertama, Roh Kudus dijanjikan Yesus kepada murid-murid-Nya. Jika mengacu dari Kisah Para Rasul, disebutkan: ‘tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (1:8). Kalau dikaitkan dengan Injil Lukas, maka Roh Kudus itu disebut sebagai ‘kekuasaan dari tempat tinggi’ (24:49).

Kedua, Roh Kudus selalu diberitakan bersama-sama dengan Tuhan, dan tanda-tandanya seperti lidah-lidah api, angin, burung merpati, dll ~merupakan bukti bahwa Roh Kudus itu impersonal tetapi ada di dalam manusia sebagai personal. Karena itu saya berpendapat Roh Kudus itu berperan melengkapi manusia bagi pelayanan (Keluaran 31:3; Hakim-hakim 3:10, 14:6; Luk.4:14, 18-19; dsb).

Alasan ketiga, saya yakin bahwa Roh Kudus (dapat) ada pada semua orang. Sebab Roh Kudus itu tidak bisa dibatasi atau dikekang. Kita sadar bahwa setiap manusia mempunyai kelemahan dan kekurangan. Manusia pun disebut pada hakekatnya berdosa. Walau untuk ini saya kurang sependapat, karena sesuai dengan citranya dalam penciptaan, manusia itu dipandang Tuhan ‘baik’ (Kej.1:31). Citra ‘baik’ itu adalah citra etik yang menunjukkan bahwa di dalam diri manusia terdapat potensi untuk terus ‘menjadi baik’.

Dari situ maka saya sementara menyimpulkan, manusia yang berhenti berusaha menjadi baik adalah manusia yang mencutikan Roh Kudus. Sedangkan manusia yang terus berusaha menjadi baik, membiarkan atau selalu mengundang Roh Kudus untuk melengkapinya, agar minimal ia tahu perbuatan apa yang harus dan tidak boleh ia lakukan.

Saya berterima kasih karena melalui Rumahtiga Bible Club, hal ini menjadi bahan diskusi. Di situ saya mendapat beberapa masukan yang turut membentuk tulisan sederhana ini.

HAKEKAT DAN PERAN ROH KUDUS

Saya bertolak dari teks-teks Perjanjian Baru, untuk membantu memahami hakekat dan peran Roh Kudus. Tafsiran ini turut dibentuk melalui beberapa teknik sederhana, dan sudah tentu dari hasil diskusi yang rutin dilakukan setiap hari Sabtu pagi, dengan turut didampingi oleh para pendeta dalam Jemaat.

Saya mengambil yang pertama Teks Lukas 24:49 ‘Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi’.hs

Hakekat Roh Kudus yang tampak di situ sebagai roh yang memperlengkapi. Sudah tentu kita bertanya mengenai hal ‘memperlengkapi’. Saya yakin, bukan berarti Roh Kudus tidak bekerja sejak awalnya dalam diri seorang manusia, melainkan sudah bekerja karena setiap orang percaya dipenuhi Roh Kudus. Roh itu sifatnya memperlengkapi. Para murid sudah menjalani masa pemuridan yakni ketika mereka dipilih dan setiap kali diajar Yesus bersama dengan orang banyak, malah melihat tanda-tanda mujizat yang diadakan-Nya, serta pernah pula disuruh untuk melakukan tugas-tugas penting (Luk. 10:1-12).

Karena itu, mengikuti proses pemuridan ~dalam hal ini belajar dari lingkungan pendidikan iman, adalah hal yang penting. Itulah sebabnya Yesus berkata kepada para murid-Nya ‘kamu harus tinggal di dalam kota ini…’. Ungkapan itu bagi saya menunjuk pada lingkungan pemuridan yang mereka jalani.

Roh Kudus disebut sebagai ‘kekuasaan dari tempat tinggi’ berarti bahwa Roh Kudus itu ada bersama dengan Allah dan adalah Allah itu sendiri (Mat.3:16). Sumber dari Roh Kudus adalah Allah. Dalam injil kita bisa melihat rupanya dalam wujud burung merpati, lidah-lidah api, dlsb. Ketika disebut sebagai ‘kekuasaan dari tempat tinggi’, maka analoginya adalah dari langit atau surga sebagai takhta Allah Yang Mahatinggi. Karena itu Roh Kudus bukan roh jahat atau roh dunia orang mati.

Teks kedua, Kisah Para Rasul 1:8 ‘Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi’. Saya kira dua teks ini sambung menyambung. Saya semakin senang, sebagai awam teologia, karena menurut para pendeta yang mendampingi RBC, kepengarangan kedua kitab itu adalah sama. Katanya pula, Kisah Para Rasul adalah kelanjutan dari Injil yang ditulis Lukas.

Karena itu, hakekat kuasa Roh Kudus untuk memperlengkapi para murid itu bertujuan supaya mereka menjadi saksi-Nya. Itu pula yang dibuktikan melalui khotbah Pentakosta yang sangat mengguncang hati banyak orang saat itu.

Saat Pentakosta para murid bersaksi atau berkhotbah tentang Yesus, yang dalam Kisah Para Rasul 2:33 disebut sebagai yang telah ditinggikan oleh Allah dan menerima Roh Kudus, bahwa Roh itulah yang kini memperlengkapi para murid sehingga orang banyak bisa melihat mereka dalam keadaan yang baru, sebagai para pengkhotbah injil yang luar biasa.

Artinya peran Roh Kudus untuk memperlengkapi para murid dan semua orang percaya yang digembleng dalam ‘sekolah pemuridan’, agar siap menjalankan tugas Pekabaran Injil. Karena itu Roh Kudus tentu tidak berhenti bekerja, atau tidak bisa dicutikan.

MOMENT-MOMENT DALAM PERJANJIAN BARU TATKALA ‘ROH KUDUS DICUTIKAN’

Seperti dijelaskan tadi, maka pertanyaannya adalah apakah ada saat ketika Roh Kudus ‘dicutikan’? Bagaimana cara manusia ‘mencutikan’ Roh Kudus. Seperti telah dikatakan tadi: ‘manusia yang berhenti berusaha menjadi baik adalah manusia yang mencutikan Roh Kudus. Sedangkan manusia yang terus berusaha menjadi baik, membiarkan atau selalu mengundang Roh Kudus untuk melengkapinya’.

Dalam buku ‘Teologi Perjanjian Baru 3’ karangan Donald Guthrie (1992:48), ia menjelaskan bahwa:

‘Roh yang dijanjikan kepada semua murid untuk tinggal di dalam mereka, menjamin adanya satu tubuh yang terdiri dari orang-orang yang menyerahkan diri untuk tujuan yang sama; yaitu untuk memberikan kesaksian tentang Kristus (Yoh.15:27). Tujuan ini tidak memerlukan suatu organisasi untuk mencapainya, tetapi harus ada perasaan kesatuan yang kuat, yang bergantung bukan pada kepandaian manusia melainkan pada kuasa Roh Kudus’.

Pendapat membenarkan kesimpulan saya, bahwa Roh Kudus ‘dicutikan’ karena orang lebih mengandalkan kepandaian dirinya semata. Atau juga ketika orang merasa bahwa untuk berbuat baik harus melalui lembaga gereja. Karena itu tidak jarang warga jemaat mengkomplain gereja tidak bikin ini dan itu, gereja belum maksimal dalam bersaksi. Dan gereja yang dimaksud adalah organisasi atau institusi. Mereka lupa bahwa Roh Kudus tidak memerlukan suatu organisasi, tetapi melayakkan setiap pribadi yang membuka diri menerimanya.

Saya mau melihat dua kisah yang menurut saya menjadi alasan dari pendapat saya itu, yakni:

Kisah 1 : Yesus Meneduhkan Angin Ribut

Roh Kudus sempat ‘dicutikan’, yakni ketikajesus-quiets-the-sea para murid bersama Yesus dalam satu perahu. Kala angin ribut serta ombak hampir menenggelamkan perahu mereka, Yesus tertidur (Mat.8:23-27; Mrk.4:35-41; Luk.8:22-25). Cerita Injil Markus lebih naratif dan menarik. Mengikuti kisah dalam Markus, sederhananya ceritanya begini:

Sore itu, Yesus mengajak para murid-Nya: ‘Marilah kita bertolak ke seberang’. Lalu Yesus bersama para murid-Nya naik ke perahu dan mereka meninggalkan orang-orang banyak di pantai itu. Ternyata ada pula orang lain yang turut naik ke perahu yang lain dan berlayar bersama Yesus dan para murid-Nya, waktu itu.

Tiba-tiba angin dan ombak besar menghantam perahu di mana Yesus ada di dalamnya. Sudah tentu perahu yang lain pula diguncang ombak dan semuanya nyaris tenggelam. Dalam keadaan itu para murid yang satu perahu dengan Yesus yang panik. Mereka sudah berusaha sedaya mampu mereka sebagai nelayan. Ada yang menurunkan layar supaya tidak terseret angin, ada yang menimba air yang mulai masuk, ada yang sibuk dengan peralatan yang tercecer sana sini, dan lain pekerjaan dalam kepanikan itu. Semuanya saudah dilakukan tetapi air terus masuk ke dalam perahu dan sedikit lagi mereka pasti tenggelam.

Teringatlah mereka bahwa ada Yesus dan Ia sedang tertidur tanpa dikagetkan oleh situasi laut yang bergelora itu. ‘Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?’ Diteriaki seperti itu, Yesus bangun dan menghardik angin dan berkata kepada danau itu: ‘Diam! Tenanglah!’

Seketika itu pula angin dan ombak itu teduh. Rasa takut para murid serta merta hilang. Mereka semua malu, dan Yesus berkata: ‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’ Para penumpang di perahu-perahu yang lain pun bisa tenang dan mereka bisa berlayar kembali sampai ke pantai. Tetapi dalam hati para murid ‘siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?’

Para murid yang setiap hari bersama dengan Yesus, melihat-Nya melakukan mujizat, mendengar secara langsung pengajaran-Nya, kali ini berada dalam ‘kehampaan’. Jika saya mengikuti pendapat Donald Guthrie tadi, maka soalnya bukan pada Yesus yang tertidur, melainkan pada kepanikan para murid yang tidak mengandalkan iman di dalam dirinya, melainkan mempersoalkan mengapa Yesus tertidur.

Dengan berkata: ‘Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?’, para murid dikepung rasa takut mati. Itu membuat mereka ‘mencutikan Roh Kudus’ ~dengan jalan mempersoalkan keadaan Yesus yang tertidur. Mereka mengklaim Roh Kudus terbenam dalam tubuh Yesus yang tertidur dan tidak melembaga di dalam diri mereka.

Fenomena ini sering dilakukan orang percaya yang selalu meminta Tuhan (harus) intervensi untuk membantu, Tuhan harus segera menolong, Tuhan harus pergi kepada orang-orang yang terpenjara, orang miskin dan susah ~dan bukan sebaliknya kita yang membantu sesama, menolong orang susah dan miskin, mengunjungi orang yang terpenjara, karena kuasa Roh Kudus menggerakkan kita (bnd. Mat. 25:34-40).

Respons Yesus ‘mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya’, adalah suatu kritikan terhadap iman yang tidak bertumbuh karena kepanikan tersebut. Para murid sudah mendayagunakan kemampuan sebagai nelayan, namun satu yang kurang pada mereka adalah ‘rasa takut mati’ terlalu besar dibandingkan dorongan untuk mengandalkan kuasa Tuhan. Karena itu, saat dibangunkan, Yesus pertama-tama menghardik angin dan ombak, dan keduanya diam. Hardikan itu menjelaskan dimensi kuasa Roh Kudus di dalam Yesus, dan yang dapat ada sebagai pemberian Tuhan kepada semua orang percaya.

Kisah 2 : Goncangan Iman antara Kematian Yesus – Pentakosta

Urutan kisah ini panjang dan tersebar dalam Injil sampai Kisah Para Rasul. Saya mengajak kita melihat beberapa peristiwa penting antara masa Kematian Yesus sampai Pentakosta.

Rasa takut mati ternyata menjadi hantu zaman yang membuat para murid ‘mencutikan Roh Kudus’. Salah satu bentuknya ialah mereka mengurung diri dalam rumah.

Teks Lukas 24:49 dan Kisah 1:8 menjelaskan bahwa ada masa di mana para murid akan menerima kuasa Roh Kudus sebagai kelengkapan utama untuk memberitakan injil. Roh Kudus diartikan sebagai ‘kuasa dari tempat tinggi’ atau ‘yang turun dari atas’. Ini menunjuk pada hakekat Roh Kudus yang menyatu dengan Allah Bapa. Jadi ketika Yesus bagkit, kuasa itu didelegasikan langsung ke dalam diri para murid dan semua orang yang percaya oleh pemberitaan mereka.

Dimensi itulah yang menjadi point kritik kepada umat dewasa ini, ketika dalam banyak hal kita kurang mengandalkan kuasa Roh Kudus ~yang telah didelegasikan Tuhan kepada kita. Roh Kudus dalam arti sebenarnya bukanlah suatu subyek baru yang dikirim pada pentakosta. Roh Kudus merupakan spirit ilahi yang meneguhkan iman dan menjadi dasar dari segala firman Tuhan dan sudah berkarya sebelum dunia dijadikan. Pada saat Yesus berkarya, Roh Kudus pun sudah melakukan kerjanya, terintegrasi di dalam kuasa Yesus dan terinternalisasi dalam diri orang banyak yang percaya kepadaNya.

Situasi cemas dan takut yang menghinggapi para murid, membuat mereka pasif. Pentakosta adalah juga suatu dobrakan dan kritikan terhadap rasa takut dan cemas para murid. Ketakutan dan kecemasan membuat mereka menjadi pasif dan seakan suatu obyek yang harus digerakkan.

Itu sama dengan ‘mencutikan Roh Kudus’ ~karena dalam banyak hal kita masih terpasung pada legitimasi kuasa, status, dan jabatan-jabatan kharismatik dalam gereja. Pemahaman umum dan semacam teologi jemaat di GPM ialah doa dan pemberitaan injil ~malah pelayanan kasih adalah tugas pokok Majelis Jemaat (pendeta, penatua, diaken). Kita melembagakan kuasa Roh Kudus pada jabatan gerejawi, dan bukan pada internalisasi pesan injil Yesus Kristus di dalam diri setiap kita.pentakosta

Fenomena itu paralel dengan pengalaman para murid sebelum Pentakosta. Karena itu, pentakosta adalah sebuah gerakan iman baru, agar kuasa Roh Kudus tidak dipakukan pada jabatan dan fungsi kharismatik melainkan disebarkan kepada setiap orang yang percaya kepada Tuhan.

 

PEKABARAN INJIL SEBAGAI MOMENT ROH KUDUS DENGAN JEMAAT

Gereja pada hakekatnya adalah wujud karya Roh Kudus yang memampukan sekumpulan orang mengaku percaya kepada Yesus, memberitakan Injil, melayankan ibadah dan sakramen, serta bertanggungjawab dalam pelayanan kasih kepada sesama dan alam semesta ciptaan Tuhan. Gereja tidak mengklaim bahwa Roh Kudus hanya ada di dalamnya. Sebab Roh Kudus ada pada matra yang luas, yakni seluruh manusia dan alam semesta.

Namun bagi gereja, pengakuan akan dirinya sebagai citra dan karya Roh Kudus, diungkapkan dalam Roma 8:14-15 “semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

Di situlah letak hakekat diri dan karya gereja di tengah dunia. Apa yang membuat kuasa Roh Kudus tersebar dan tinggal dalam diri setiap orang yang percaya kepada Tuhan? Jawabannya adalah ‘pekabaran injil’. Pentakosta adalah event pekabaran injil perdana yang dilakukan para murid sesuai dengan kuasa Roh Kudus yang telah memenuhi mereka.

Karena itu gereja yang memberitakan injil adalah gereja yang yakin akan kuasa Roh Kudus di dalamnya. Dengan kata lain, gereja yang berhenti ber-PI adalah gereja yang ‘mencutikan Roh Kudus’, gereja tidak mau bergantung pada kuasa Roh Kudus. Gereja yang demikian adalah mati, atau fosil agama yang menjadi pajangan di dalam dunia yang terus berubah.

Pekabaran Injil adalah suatu gerakan gereja untuk membimbing perubahan sosial ke arah etik dan manusiawi. Sebab perubahan apa pun, dilakukan oleh manusia. Manusia pembaru adalah manusia yang memiliki sikap etik yang baik, luhur dan lurus. Manusia itu tidak takut pada kemajuan, melainkan mengendalikan kemajuan dengan mengandalkan kuasa Roh Kudus. Dalam dimensi itu, setiap perbuatan destruktif, adalah tidak etis. Tindakan yang tidak etis bersumber dari nafsu ‘mencutikan Roh Kudus’.

Jika ada orang yang menganggap bahwa di era modern atau postmodernisme ini, orang sudah tidak terlalu sibuk dengan agama atau iman, maka itu adalah moment ‘mencutikan Roh Kudus’ yang pada gilirannya membuat manusia hidup dalam fantasi yang tinggi, tetapi tetap takut mati.

Dalam situasi itu, kadang ‘Roh Kudus diistirahatkan sementara waktu’ agar manusia bisa melakukan tindakan-tindakan yang destruktif atau tidak manusiawi seperti berperang, korupsi, membunuh, memperkosa, mencuri, suka memfitnah, menipu dan memanipulasi hak orang lemah dan miskin, menjauhi ibadah tetapi selalu menuntut didoakan dan diperhatikan hak-hak kejemaatannya, dan lain sebagainya.

Saya kira, hal-hal yang terjadi dalam diri kita oleh dorongan hawa nafsu, adalah moment dimana kita mencutikan Roh Kudus dan perannya. Karena itu pekabaran injil harus turut membentuk watak etik dan manusiawi di kalangan jemaat dan masyarakat, agar mereka tidak hidup menurut hawa nafsu kedagingan melainkan menurut kuasa Roh Kudus. Intinya, kuasa Roh Kudus itu sifatnya tidak terbatas. Ia tetap bekerja di dalam setiap orang. Namun kita yang kadang tidak mau mengandalkan kuasa itu, karena ‘takut mati’ dan godaan hawa nafsu kedagingan. Dua perasaan itu yang selalu membuat kita mencutikan Roh Kudus.

Be Sociable, Share!