Cara Tuhan Menyatakan Kuasa-Nya (Keluaran 4:1-5)

Dalam hidup ini kita sering mencari tahu bagaimana cara Tuhan menyatakan kuasa-Nya. Dalam konteks Hari Ulang Tahun ke-29 Laki-laki GPM tahun ini pun, hal itu masih menjadi sesuatu yang kita lakukan. Ternyata alasan orang mencari tahu hal itu karena ia merasa tidak bisa hidup tanpa campur tangan Tuhan. Dengan lain perkataan, mereka yang terus mencari tahu cara Tuhan menyatakan kuasa adalah mereka yang yakin bahwa Tuhan adalah penyebab utama dari segala sesuatu di hidupnya.

Sebagai laki-laki gereja, kita perlu meyakini bahwa kita adalah utusan Tuhan untuk membawa pembebasan kepada banyak orang. Banyak orang itu harus pertama-tama kita defenisikan sebagai mereka yang ada dalam rumah tangga kita. Sebab itu, laki-laki gereja adalah utusan di dalam sebuah keluarga kudus (the holy family). Keluarga kudus adalah suatu realitas berkat di mana Tuhan menjadikan seorang laki-laki sebagai pemimpin dan sekaligus pelayan bagi kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangga. Melakukan peran sebagai utusan Tuhan di situ berarti memenuhi segala janji Tuhan bagi hidup seisi rumah tangga.

Jika laki-laki gereja kedapatan melakukan hal itu dengan baik, ia membuat rumah tangganya memberi dampak positif bagi terwujudnya suatu masyarakat yang baik (the good society). Karena itu masyarakat yang baik dihasilkan melalui pembinaan keluarga yang efektif. Perilaku masyarakat ditentukan oleh kualitas perilaku anggota rumah tangga. Maka mau tidak mau, fungsi sebagai utusan dalam rumah tangga harus diperhatikan dan dijalankan dengan berpegang pada janji Tuhan. Di situlah letak keberhasilan pembinaan keluarga.

Dalam konteks bacaan kita, Musa sebagai sang utusan merasa perlu menunjukkan kepada umat suatu bukti bahwa ia adalah utusan itu sendiri. Tuhan dengan cara-Nya menunjukkan kuasa-Nya dengan membuat tongkat menjadi ular, namun Musa masih kurang yakin. Ia kemudian membuat tangan Musa menjadi kusta dan sesaat kemudian mentahirkannya. Dua tanda itu menegaskan bahwa, kalau Tuhan sudah menjadikan seseorang sebagai utusan-Nya, Ia secara otomatis melimpahkan kuasa atas utusan itu. Tuhan tidak menjadikan seorang utusan dan tidak menyertai utusan itu dalam melakukan tugasnya.

Setiap utusan itu disertai Tuhan. Malah Tuhan memakainya untuk menyatakan kuasa-Nya, agar kepada siapa dia diutus, orang yang mendengar kesaksiannya menjadi percaya kepada Tuhan yang sudah mengutusnya.

Dalam konteks HUT ke-29 Wadah Laki-laki GPM, kita harus yakin bahwa Wadah ini dijadikan Tuhan untuk melakukan tugas kesaksian bagi banyak orang. Salah satu tantangan yang masih menjadi pokok gumulan selama ini ialah minimnya tingkat partisipasi anggota laki-laki gereja atau warga sidi gereja yang laki-laki dalam ibadah. Tantangan lain ialah tugas untuk membentuk karakter anak-anak, yang sering dihadapkan pada berbagai dinamika di dalam pendidikan, pergaulan dan masyarakat. Keteladanan diri laki-laki gereja masih sangat diharapkan, walau ada yang sulit menjadi teladan yang baik.

Di sinilah penting kita memahami posisi dan peran kita sebagai utusan Tuhan. Sebab kalau semua orang yakin akan hal itu, ia akan berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan, karena ia merasa tidak lengkap jika tanpa campur tangan Tuhan. Terkadang harus kita yakin bahwa jika kita tidak rindu beribadah, kita mengalami krisis diri yakni krisis kesombongan yang membuat kita merasa sudah tidak memerlukan Tuhan lagi.

Semakin orang rindu beribadah, ia semakin mau bergantung pada Tuhan. Sama dengan dorongan untuk berbuat baik atau menjadi teladan adalah sesuatu yang bersumber dari pengakuan bahwa kalau melakukan hal yang buruk itu rugi dan tidak memberi faedah bagi banyak orang. Maka orang mau memperbanyak kualitas dan kuantitas perbuatan baik.

Kiranya kita semakin terdorong untuk menjadi utusan yang mampu memberi kebaikan kepada banyak orang, sebab dengan demikian Tuhan melaksanakan apa yang dikehendakiNya melalui kita. Selamat melayani dan selamat ulang tahun Wadah Laki-laki GPM. Amin!

Be Sociable, Share!