‘Aku Menyertai Lidahmu’ (Keluaran 4:10-12)

angan ada yang meragukan kuasa Tuhan yang menjadikannya sebagai seorang utusan dalam keluarga, jemaat atau masyarakat. Kita mengakui bahwa, manusia memiliki keterbatasan. Tetapi kita harus yakin, dalam keterbatasan sebagai manusia itulah, Tuhan akan menyatakan kuasaNya sehingga Ia dimuliakan. Artinya, ketika seseorang dijadikan Tuhan sebagai utusanNya, maka Ia sendiri yang memperlengkapi utusan-Nya itu.

Sadar akan kelemahannya, Musa kedapatan ragu untuk menunaikan tugas sebagai utusan untuk membebaskan Israel. Selain meminta tanda berupa nama dan kuasa Tuhan (baca ay.1-9), Musa pun merasa bahwa ia tidak pandai berbicara.

Beberapa nabi menjadikan kemampuan berbicara sebagai kecakapan untuk menjalankan tugas kenabian. Selain Musa, demikian pun Yeremia dan Yesaya. Malah para murid Yesus dalam Perjanjian Baru pun dikabarkan dilimpahi Roh Kudus sehingga mereka pandai berbicara dalam rupa-rupa bahasa (bnd. Kisah 2:1-13).

Apa yang Musa ragukan adalah sesuatu yang lumrah, jika kita menengok sedikit tentang keberadaannya, yakni seorang anak Israel yang dibesarkan dalam istana Firaun, kemudian melarikan diri dari Firaun, dan kini harus kembali kepada Firaun untuk meminta pembebasan bagi orang Israel. Kecakapan berbicara mungkin tidak terlalu sulit bagi Musa. Tetapi bagaimana ia meyakinkan orang Israel di satu sisi bahwa ia adalah utusan Tuhan, dan pada sisi yang sama harus menegosiasikan pembebasan orang Israel dengan Firaun.

Karena itu, setelah tanda mujisat seperti tongkat menjadi ular, tangan kusta ditahirkan segera, maka dalam bagian bacaan kita ini, Tuhan menegaskan akan ‘menyertai lidah’ Musa, dan mengajarkan apa yang akan ia katakan nanti kepada Firaun.

Di sinilah letak penting teks ini, dan juga pesannya kepada kita, terutama dalam menjalankan tugas kita untuk membina umat atau keluarga. Istilah Tuhan ‘menyertai lidah’ berarti bahwa segala tutur kata kita adalah tutur kata yang benar karena kita berbicara bukan menurut kemauan dan kemampuan kita. Kita berbicara karena Tuhan menaruh kata-kataNya pada lidah kita.

Ia menguatkan lidah kita untuk berkata benar, tidak takut menyampaikan maksud kepada orang lain. Ia membuat supaya kata-kata kita kedengaran bijak dan dituruti. Jadi lidah kita menjadi alat penyambung lidah atau kata-kata Tuhan kepada siapa Ia hendak berbicara.

Dengan demikian setiap orang yang diutus Tuhan, dan yang lidahnya ‘dipakai’ Tuhan akan berbicara benar, jujur, tulus, sungguh-sungguh, tegas, penuh wibawa, dan tidak menghasut apalagi mengecewakan hati orang lain.

Lidah yang disertai Tuhan adalah lidah yang berbicara untuk menguatkan iman, meneguhkan hati hancur, menguatkan semangat yang nyaris patah, menghibur hati yang berduka, mengajak orang sukses untuk rendah hati dan bersyukur.

Lidah itu juga adalah lidah orang tua yang membina anak-anak dengan kata-kata yang manis, sopan, santun, penuh kasih, tidak diwarnai sumpah serapah, makian, cacian. Lidah yang membuat anak mengerti mengapa mereka harus dengar-dengaran, dan mengapa mereka tidak boleh menjadi anak yang durhaka.

Lidah itu adalah juga lidah para pelayan yang penuh dengan kata-kata doa bagi umatnya. Lidah yang penuh dengan pemberitaan injil yang menguatkan, tidak menghardik melainkan mendidik, tidak menghancurkan melainkan mengutuhkan dan memperbaiki yang telah rusak; lidah yang profetik untuk berkata tentang kebenaran, sambil melakukannya; mengajarkan kerendahan hati sebagai hamba sambil setia melayani; menjelaskan firman dan kehendak Tuhan sambil bersedia ditegur oleh firman itu pula.

Dengan demikian, kita akan mendapatkan kata-kata yang berguna dan membangun dalam relasi hidup setiap hari. Jadikan semuanya bagian dari hidup keluarga kita dalam jemaat. Amin!

Be Sociable, Share!