GPM Patahuwe (Gambaran Umum Jemaat)

rmh

Jemaat GPM Patahuwe adalah jemaat yang telah bermukim sejak tahun 1970, yang oleh inisiatif Kepala Kecamatan pada saat itu memindahkan mereka bersama dua jemaat lainnya dari negeri asalnya di pegunungan bagian belakang Negeri Buria. Konflik sosial yang melanda daerah Maluku di tahun 1999 turut mempengaruhi kehidupan jemaat GPM Patahuwe, sehingga mereka ikut tergusur dari tempat pemukimannya dan mengungsi sampai dengan tahun 2005, dimana pada tahun tersebut jemaat GPM Patahuwe baru dapat kembali ke desanya untuk membangun

 

tempat-tempat pemukiman baru melalui bantuan Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat dalam membangun rumah-rumah sangat sederhana guna mengembalikan mereka pada kondisi kehidupan yang lebih manusiawi.

Berdasarkan catatan statistik desa dan statistik GPM Patahuwe tahun 2014, jumlah anggota jemaat GPM Patahuwe tercatat sebesar 236 jiwa, terdiri dari perempuan sebanyak 111 jiwa dan laki-laki 125 jiwa dari 50 kepala keluarga (KK). Berdasarkan tingkat pendidikan, anggota jemaat Patahuwe terdiri atas tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) sebesar 95 orang atau 54,60%, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 32 orang atau 18,39%, Sank pthwekolah Menengah Umum (SMU) 36 orang atau 20,69%, dan Perguruan Tinggi (D1, D3, S1) sebesar 11 orang atau 6,32%. Dilihat dari jenis mata pencaharian, maka di negeri Patahuwe terdapat pegawai negeri sipil (PNS) sebanyak 5 orang, pegawai honor sebanyak 6 orang, petani/pekebun sebanyak 40 orang, wirausaha 1 orang, sopir mobil 1 orang, tukang kayu dan tukang batu 2 orang, dan pensiunan sebanyak 3 orang.

Usahatani merupakan sektor utama penunjang ekonomi jemaat. khususnya usahatani tanaman umur pendek, yang sebagian besar digunakan untuk konsumsi keluarga, misalnya pisang, singkong, keladi, ubijalar, dan beberapa jenis tanaman seumur sayuran (kacang panjang, bayam) dengan rata-rata luas lahan antara 0,5 – 1 Ha. Sedangkan jenis tanaman umur panjang, seperti misalnya kelapa, kakao, dan cengkih diproduksi untuk dipasarkan, dengan rata-rata luas lahan berkisar antara 1 – 3 ha. Kondisi luas lahan garapan yang demikian menunjukkan rendahnya produksi. Sedangkan rendahnya produktifitas disebabkan oleh sejumlah faktor, diantaranya yaitu masalah sikap terhadap pekerjaan, rendahnya tingkat pendidikan, kurang menerima penyuluhan dan pelatihan, terbatasnya sumber biaya modal dan hambatan dalam pemasaran hasil. Gambaran kondisi seperti ini berakibat terhadap rendahnya pendapatan, yang kemudian berpengaruh pada rendahnya kualitas dan taraf hidup anggota jemaat.

Be Sociable, Share!

One thought on “GPM Patahuwe (Gambaran Umum Jemaat)

  1. Wiliam

    Wahh kangen dengan ambon, khususnya rumah tiga. Dari kelas 4 SD sampai kelas 1 SMP tinggalnya d rumah tiga. Sudah 16 tahun belum pernah ke ambon lagi semenjak kerusuhan. Banyak kenangan di rumah tiga, dan juga waktu dulu sempat mengikuti peresmian GPM Rumah Tiga (paling ingat wktu itu ketika balon peresmian dilepaskan ke udara, seketika itu jg turun hujan hnya dlm wktu 5 detik, hujan berkat! ). Dan baru2 ini ketemu lg dgn teman tunas masa kecil via facebook: Merlyn hitalessy dan Sendy dacosta :D. Senang rasanya melihat ambon, rumah tiga, dan GPM berkembang pesat.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *