BERTEOLOGI DI WALANG PI

18033961_10211037522886866_5159722298518092034_n

Walang PI Klasis Pulau Ambon Utara

Wayame – Pagi itu (22/4/2017) cuaca cukup cerah menjemput kami yang berdatangan di pelataran kantor klasis Pulau Ambon Utara. Perlahan suara musik mulai terdengar, kami pun hanyut dalam senam bersama yang sedang  trend saat ini dikenal dengan “Goyang Tobelo”. Nuansa persekutuan yang erat pagi ini. Tak sampai disitu, agenda kami lanjutkan dengan sarapan bersama dan forum diskusi yang sebenarnya sudah menjadi agenda wajib di Jemaat dan Klasis ini yang mungkin lebih dikenal dengan “Walang PI”.

Berbagai topik menjadi bahan gumulan pagi itu seperti : Trend kemunduran dalam kehidupan orang Kristen” yang  diindikasikan dengan kualitas pendidikan warga Kristen, misalnya prestasi anak-anak makin menurun. Di lain sisi tingkat perceraian dan penghuni lapas/penjara yang nota bene beragama Kristen juga meningkat. Krisis kepemimpinan orang Kristen, tidak menjadi insipirator dan motivator. Diskusi pun meningkat dengan pembahasan “Jemaat role model” seperti dalam kasus Walang PI Jemaat GPM Rumah Tiga. Melalui Walang PI, jemaat ini terus mendorong kepekaan dan komitmen untuk ber-PI. Kegiatannya, selain diskusi rutin, tapi juga langkah-langkah konkrit seperti bantuan dan pendampingan terhadap jemaat mitra di Seram. Terlepas dari keterbatasan yang mungkin dimiliki gerakan Walang PI Rumah Tiga, tapi langkah ini bisa dikategorikan “best practices” yang dapat dishare kepada jemaat- jemaat yang lain sebagai bahan pembelajaran bersama.

18034089_10211037519806789_1642391666708237916_n

Butje Tahapary

Dari perbincangan ini pun, forum mengambil tekad untuk melakukan gerakan “Dari Diskusi ke Aksi”. Hal ini bukan menunjukan bahwa diskusi tidak penting, tapi setelah diskusi maka perlu ada langkah-langkah konkrit yang terukur dan berkesimbungan. Dengan begitu makin jelas gerak perubahan yang dilakukan gereja dalam menjawab krisis yang sedang dihadapi dan makin nyata peran gereja dalam memberitakan Injil yang holistik dan transformatif. Disamping itu, ada pula pikiran – pikiran cerdas tentang Belajar teologi dan berteologi bersama Jemaat. Warga jemaat sesungguhnya memiliki kekayaan spiritual dan pengalaman iman/hidup yang luar biasa. Mereka bukan objek tapi subjek. Di lain sisi para pendeta juga mesti menyadari krisis yang sedang terjadi dalam tubuh para pelayan sendiri. Olehnya perlu membuka diri untuk berbenah dan belajar bersama demi pembaruan dan kemandirian teologi dan berteologi yang kontekstual dan transformatif.

Perbincangan semakin menarik dengan beberapa tanggapan dari peserta forum diskusi ini. Seperti pandangan Pak Wardis. Girsang : “Kita perlu kembali melihat focus tujuan PI kita, apakah untuk membangun jemaat baru (church planting) atau pada membagun kapasitas gereja dalam memperkuat partisipasi di bidang social ekonomi, dll; atau Pdt. Tony Kesaulya – Pendeta Senior di Jemaat GPM Rumahtiga yang mengingatkan bahwa PI seharusnya saat ini bukan lagi soal perencanaan tapi soal strategi dengan orientasi yang turut berubah dari pembangunan fisik menjadi pembangunan manusia.   Pak Butje Tahapari pun ikut berbicara tentang semangat PI yang harusnya digelorakan kembali. “Jangan mencutikan Roh Kudus” sepenggal kalimat yang selalu diucapkan dosen senior Fakultas Hukum Unpatti ini. Ungkatap sederhana penuh makna. Tuhan memberikan RohNya dalam diri kita, namun tak sedikit yang melupakannya bahkan tak mengajakNya untuk berkerja menguasai hidup dan kehidupan. Mari gerakan kembali Roh Kudus dalam hati, nyalakan kembali api injil dan jadilah saksiNya. Tabea…

Penulis: Rudy Rahabeat

Editor : Glen Pietersz

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *